ADAT
ISTIADAT BANGKA BELITUNG
1.
Tamat Ngaji / Betamat Massal
Tamat ngaji (betamat/tamatan Qur’an) merupakan
upacara yang dilakukan sebagai petanda bahwa seorang yang telah melaksanakan
tamat ngaji dianggap telah pandai membaca al-Qur’an. Upacara ini dilakukan
dalam rangka mensyukuri anak-anak khususnya dan remaja yang telah menamatkan
bacaan al-Qur’an.
Dalam tamat ngaji, peserta yang ikut dalam
upacara tersebut membaca surat-surat pendek dari al-Qur’an secara bergantian.
Biasanya pembacaan surat-urat pendek tersebut dimulai dari surat ad-Dhua sampai
an-Naas. Anak-anak dan remaja yang tidak (belum) pernah menamatkan pembacaan
al-Qur’an tentu tidak dapat ikut betamat. Namun bagi mereka yang telah
menamatkan al-Qur’an boleh mengikuti untuk kedua kalinya.
Bagi masyarakat Peradong, tamatnya anak-anak
mereka membaca 30 juz al-Qur’an merupakan sesuatu yang sangat istimewa,
sehingga perlu disyukuri secara khusus. Ritual ini memiliki makna dan fungsi
yang sangat penting dalam pendidikan keagamaan di masyarakat karena orang yang
tidak mampu membaca al-Qur’an atau tidak fasih dalam membacanya akan menanggung
malu dan mendapat gunjingan dari masyarakat. Untuk upacara ini, tampuk kegiatan
dipegang oleh pak Penghulu mulai acara berlangsung sampai selesai
Nganggung
Nganggung adalah
suatu tradisi turun temurun yang hanya bisa dijumpai di Bangka. Karena tradisi
nganggung merupakan identitas Bangka, sesuai dengan slogan Sepintu Sedulang,
yang mencerminkan sifat kegotong royongan, berat sama dipikul ringan sama
dijinjing.
Dalam acara ini, setiap kepala keluarga
membawa dulang yaitu sejenis nampan bulat sebesar tampah yang terbuat dari
aluminium dan ada juga yang terbuat dari kuningan. Untuk yang terakhir ini
sekarang sudah agak langka, tapi sebagian masyarakat Bangka masih mempunyai
dulang kuningan ini.
Didalam dulang ini tertata aneka jenis makanan
sesuai dengan kesepakatan apa yang harus dibawa. Kalau nganggung kue, yang
dibawa kue, nganggung nasi, isi dulang nasi dan lauk pauk, nganggung ketupat
biasanya pada saat lebaran.
Adapun nganggung merupakan suatu kegiatan yang
dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati hari besar agama Islam,
menyambut tamu kehormatan, acara selamatan orang meninggal, acara pernikahan
atau acara apapun yang melibatkan orang banyak. Nganggung adalah membawa
makanan di dalam dulang atau talam yang ditutup tudung saji ke masjid, surau,
atau balai desa untuk dimakan bersama setelah pelaksanaan ritual agama.
Perayaan selama satu minggu menyambut Tahun
Baru Imlek yang diselenggarakan di Kota Sungailiat. Merupakan agenda tahuuanan
mengikuti hitungan Kalender Cina.
Upacara Adat Rebo Kasan
Upacara adat Tolak Bala disimbolkan dengan ‘
ketupat lepas ‘ dan ‘air wafa’ yang dilaksanakan secara turun temurun oleh
penduduk desa Air Anyir, Kecamatan Merawang. Merupakan agenda tahunan setiap
tanggal 24 safar (hijriyah).
Perayaan Maulid Nabi
Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW yang
diramaikan dengan Tradisi Ngangung ( dimana setiap rumah membawakan makanan
dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar) dan dimeriahkan dengan
berbagai lomba kesenian Islami. Merupakan kegiatan agenda tahunan berdasarkan
kalender Islam yang dipusatkan di Kecamatan Mendo Barat.
Ritual Mandi Belimau
Upacara Adat membersihkan anggota tubuh dengan
“air taubat”. Kegiatan adat yang dilakukan masyarakat Dusun Limbung, Desa Jada
Bahrin dan Desa Kimak, Kecamatan Merawang. Kegiatan ini dilaksanakan satu
minggu sebelum datangnya bulan suci Ramadhan, mengambil tempat di pinggir
Sungai Limbung.
Bangka Ceria Imlek
Perayaan selama satu minggu menyambut Tahun
Baru Imlek yang diselenggarakan di Kota Sungailiat. Merupakan agenda tahuuanan
mengikuti hitungan Kalender Cina.
Sembahyang Kubur
Upacara ritual ziarah kubur untuk menghormati
para leluhur yang dilaksanakan di Perkuburan Kemujan Kota Sungailiat. Merupakan
agenda tahunan Kalender Cina
Selayang Pandang
Perang Ketupat merupakan salah satu ritual
upacara masyarakat Pantai Pasir Kuning, Tempilang, Bangka Barat. Upacara
ini dimaksudkan untuk memberi makan makhluk halus yang dipercaya
bertempat tinggal di daratan. Menurut para dukun, makhluk-makhluk halus itu
bertabiat baik dan menjadi penjaga Desa Tempilang dari roh-roh jahat.
Oleh karena itu, mereka harus diberi makan agar tetap bersikap baik
terhadap warga desa.
Upacara ini memakan waktu
selama dua hari. Hari pertama, upacara dimulai pada malam hari
dengan menampilkan beberapa tarian tradisional mengiringi sesaji untuk
makhluk halus yang diletakkan di atas penimbong atau
rumah-rumahan dari kayu menangor. Para dukun kemudian memulai
upacara. Hari kedua, upacara Perang Ketupat yang dimulai dengan terlebih
dahulu menampilkan tari Serimbang. Dukun laut dan dukun darat bersanding
membacakan mantra-mantra di depan ketupat yang berjumlah 40 buah. Setelah
itu, ketupat disusun rapi di atas tikar pandan. Pemuda berjumlah 20 pun
diatur berdiri berhadap-hadapan. Mereka saling berebut dan saling lempar
ketupat. Setelah suasana kacau, salah seorang dukun meniup peluit tanda
perang ketupat tahap pertama selesai. Setelah itu dilanjutkan perang
ketupat tahap kedua dengan proses yang sama. Upacara Perang Ketupat itu
kemudian diakhiri dengan upacara Nganyot Perae (upacara
menghanyutkan perahu mainan dari kayu ke laut sebagai tanda mengantar
para makhluk halus pulang agar tidak mengganggu masyarakat Tempilang.
Tradisi Nuju Jerami
Merupakan salah satu bentuk rangkaian pesta
adat yang bertepatan dengan panen padi. Budaya ini sebagai ungkapan wujud
syukur dan permohonan kepada Tuhan sang pencipta alam semesta atas berlimpahnya
panen padi yang didapat saat itu dan dimasa yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar